Previlisme


Aku rindu perjalan lintas ini. Meski dengan kaki bengkak, dengan pantat pegal karena harus duduk di kursi bis dua hari dua malam. Kadang aku rindu termenung sendiri di malam hari mengamati segalanya. Juga aku rindu keakraban yang terjalin di sepanjang jalan itu.

Aku rindu makanan rakyat kecil yang disajikan restoran di perhentian bis yang kutumpangi. Makanan rakyat kecil yang harus dibayar seharga junk food Amerika. Previlisme? Bukan. Kurasa ini lahir karena kebutuhan. Dan selalu darinya kapitalisme akan muncul. Kapitalisme memaksakan motif ekonomi, mendorong mutualisme antara sopir dan pemilik restoran. Kewajaran yang harus ditelan dengan pahit.

Akhirnya penumpang bis dengan segala keruwetan hidupnya, dengan kesenduannya, dengan kekalahannya, dan kemiskinannya hampir pasti dengan bangga dan terpaksa dikalungi gelar orang kaya. Gelar sesaat untuk memenuhi kebutuhannya.

Previlisme yang semu. Ya hampir terlihat sama seperti ketika membeli previlisme yang ditawarkan restoran junk food di kota besar. Meski demikian, ada yang lain yang masih kulihat dan kurasakan. Di sini warisan nenek moyang orang Indonesia masih dapat kunikmati. Sebuah tegur sapa, sebuah keramahan.

“Mari makan bang!” atau

“Saya makan duluan mas!”.

0 Responses to “Previlisme”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Categories

Kalender

December 2009
M T W T F S S
    Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Top Rated

BARUSAN DIKLIK

  • None

%d bloggers like this: