Aku dan Waktu


Jalan setapak dan kesunyian, matahari yang menyapa dalam dingin pagi itu, kabut dan hujan, senja dan gelap malam, membuat aku selalu merindukan untuk kembali dengan waktu tapi bukan waktu yang pernah kukenal. Bukan waktu dimana hatiku merasakan perih kehilangan. Berdiri di antara dinding tembok lambang kapitalis dan bisu tanah mati itu aku bertatapan dengan kenangan, dan harapan. Sunyi menepi sejenak. Aku dalam “sekarang”.

Tentu aku bukanlah turis di tanah ini. Tapi aku kini merasa asing. Aku bukanlah orang “di sini” dan bukan pula orang “di sana”. Pada akhirnya aku seperti pengunjung yang datang dengan waktu yang terdiri dari sederet kata “sekarang” dan “kemarin”, yang terpisahkan atau dipisahkan. Dan aku merasakan keresahan, tak tahu dimana aku berada?.

Tetapi siapa yang menggerakkan semua ini? merumuskan posisiku dalam postulat kata “sekarang” dan “kemarin”. Adakah yang dapat menjawab kenapa semua berubah? Aku bergeming, pura-pura tak peduli, aku ingin “kemarin” yang kualami dan mengemas apa yang terjadi, dimana aku menyebutnya sejarah diri. Namun, aku pun ingin “sekarang”, dimana pengakuan atas eksistensi diri dapat lebih kurasakan. Ketika aku menjadi aku.

Lantas ada yang berulang tapi tak kurasakan karena seringkali menyesakkan, mengucilkan aku dari dunia keramaian. Seperti telanjang. Dimana kan kutemukan bibir waktu kembali mengecup, membelai wajah dengan lentik jemarinya?. Dimana akan kudapat lagi sebuah sisi yang di sana bisa kusandarkan harapan dan lelah mimpi yang kutata dalam mendung hari ini.

Aku ingin dan akan menjadi pemilik dari sisi waktu “itu”. Di sana dapat aku akan menjamu hatiku dan juga hatinya dengan madu, bukan kesemuan yang memutar nanar dalam keindahan maya. Melukis di kanvas langit-langitnya, sebentuk permata mungkin juga bersenandung syair indah.

Namun mungkin, salah satu jalan mencapai sisi itu adalah dengan berjalan di sisi lain sebuah waktu. Dengan tamparan, dengan pisau yang menusuk perih ulu hati. Mematahkan igaku hingga menangis. Mungkin dengan mencicipi luka bernanah di sudut malam sepi.

Waktu terus berlalu, entah di sisi mana “rumah waktuku” berada. Di seberang kali kecil itukah? Dimana? Tak tahu. Aku yang “kemarin” dan aku yang “sekarang” di sisi berbeda dari sebuah waktu. Lalu kemana kaki harus melangkah? Mencari sisi waktu tempat “rumahku” berada?
Mencari jawab dalam waktu.

0 Responses to “Aku dan Waktu”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Categories

Kalender

December 2009
M T W T F S S
    Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Top Rated

BARUSAN DIKLIK

  • None

%d bloggers like this: